pengobatan lintah menurut islam
pengobatan lintah menurut islam

Apakah Pengobatan Lintah Menurut Islam Diperbolehkan?

511 View

Berbagai macam pengobatan yang dilakukan manusia bertujuan untuk mendapatkan kesehatan baik untuk tubuh bagian dalam maupun luar tubuh. Salah satu pengobatan dari zaman dulu yang masih populer hingga sekarang adalah terapi lintah. Banyak yang ingin mengetahui hukum pengobatan lintah menurut islam karena memiliki manfaat yang cukup baik untuk kesehatan.

Lintah sendiri merupakan hewan melata yang dapat menghisap darah dari tubuh atau benda yang dikenainya. Spesiesnya pun beragam, mulai dari yang hidup di air laut, air tawar hingga hidup di darat. Menggunakan lintah dapat mengobati berbagai penyakit. Simak uraian berikut ini untuk mengetahui awal mula adanya pengobatan lintah hingga hukum dan manfaatnya dalam islam.

Sejarah Dimulainya Pengobatan Menggunakan Lintah

Sebelum munculnya penggunaan obat-obatan kimia hingga praktik kedokteran modern, lintah telah digunakan sebagai metode penyembuhan dengan cara menghilangkan darah kotor pada awal abad pertengahan. Pada masa itu, ketika ada pasien yang menderita penyakit karena kelebihan darah, lintah menjadi media populer untuk menyeimbangkan porsi darah dalam tubuh.

Barulah pada tahun 200 sebelum masehi pengobatan lintah menurut islam mulai diakui di dunia kedokteran oleh seorang dokter dari Yunani dengan sebutan radioterapi. Bahkan, tokoh islam yakni Ibnu Sina pun ikut mempopulerkan kegunaan lintah dalam dunia medis. Berkat pengenalan tersebut, terapi dengan lintah menjadi populer di Eropa pada masa tersebut.

Semenjak itu, banyak ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap lintah hingga munculnya satu buku yakni The Canon of Medicine yang tersebar di Prancis dan Portugal. Akhirnya, kedua negara tersebut ikut memanfaatkan metode pengobatan lintah karena telah diakui membantu meminimalkan pembekuan darah ketika operasi bedah mikro.

Cara Kerja Lintah pada Tubuh Manusia dan Hukumnya Menurut Islam

Lintah bertugas menghisap darah kotor pada kulit yang ditempelinya. Ketika menghisap darah sedotan lintah cukup kuat hingga perlu ditunggu sampai lintah tersebut kekenyangan agar mudah dilepas. Area yang sudah disedot lintah biasanya ditaburi garam agar pembekuan darah semakin cepat meskipun lintah sendiri mengeluarkan zat untuk memelihara kelancaran peredaran darah.

Pada dunia kecantikan, darah yang sudah disedot oleh lintah akan dikeluarkan kembali dari tubuh lintah untuk digunakan sebagai facial wajah. Melihat hal tersebut, hukum pengobatan lintah menurut islam menjadi perbincangan banyak orang. Adapun pendapat yang dapat melandasi hukumnya adalah sebagai berikut:

1. Hukumnya Disamakan dengan Bekam

Cara kerja lintah yang menyedot darah manusia serupa dengan metode bekam yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Meski tidak tercantum dalam Al Qur’an secara jelas, hukum pengobatan lintah menurut islam dapat disandarkan pada hadis nabi terkait bekam tersebut hingga dapat dihukumi mubah atau boleh.

2. Bersentuhan dengan Najis Tidak Dilarang

Darah yang sudah keluar dari tubuh termasuk najis yang tidak boleh dibawa salat atau beribadah. Sementara terapi lintah tidak dilakukan saat beribadah, maka tidak ada larangan untuk melakukannya. Cukup pastikan najis tidak terbawa salat agar kegiatan ibadah tersebut dapat dihukumi sah.

Manfaat Terapi Lintah Bagi Kesehatan

Darah yang dihisap lintah dapat melancarkan peredaran darah dalam tubuh sehingga sirkulasi darah menjadi lancar. Ini artinya, terapi lintah dapat mengobati segala penyakit yang berkaitan dengan penggumpalan darah seperti demam kuning, laringitis dan lain-lain. Adapun dalam dunia kecantikan lintah dapat mengencangkan kulit hingga membuatnya lembut dan bercahaya melalui darah lintah yang dibalurkan pada wajah.

Itulah uraian mengenai pengobatan lintah menurut islam yang bisa dijadikan sebagai landasan hukum mesti tidak disebutkan secara tersurat dalam Al Qur’an. Untuk hukum seperti ini, para ulama mengqiyaskannya kepada hal yang serupa seperti bekam. Pengobatan tersebut juga telah diakui pada masa lampau oleh tokoh-tokoh islam.

BACA JUGA: Berapa Usia Sunat Menurut Islam yang Ideal? Yuk, Simak!