Etika Berbisnis Dalam Islam, Pedoman Mencari Nafkah yang Halal
Etika Berbisnis Dalam Islam

Etika Berbisnis Dalam Islam, Pedoman Mencari Nafkah yang Halal

81 View

Etika Berbisnis Dalam Islam

Jika menyimak perkembangan perekonomian global tampak begitu banyak ketidakadilan  dengan eksploitasi pendapatan dan kekayaan yang sangat besar. Kapitalisme dan dorongan dalam mengejar kekayaan materi telah membuat banyak orang melupakan etika dalam berbisnis. Namun bagi seorang muslim yang menjalankan usaha, harus tetap berpatokan pada etika berbisnis dalam islam.

Menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari adalah bagian dari ibadah. Nilai-nilai yang diajarkan juga mengatur  tentang usaha mendapatkan keuntungan dari kegiatan bisnis. Bagi seorang muslim yang menjalankan bisnis, sudah sepatutnya mengetahui etika yang harus diterapkan saat menjalankan usahanya. Untuk lebih jelasnya, Simak pembahasan tentang etika berbisnis yang islami di bawah ini.

1. Mengedepankan Kesatuan

Prinsip kesatuan dalam berbisnis di sini dimaksudkan adalah adanya keterpaduan dalam aspek kehidupan ekonomi muslim. Keterpaduan dari segi agama, politik dan sosial akan membentuk kesatuan. Pada intinya ada kesetaraan dalam menjalankan bisnis. Dalam praktiknya prinsip kesatuan ini antara lain:

  • Memberlakukan kesetaraan baik dalam bisnis maupun di tempat kerja. Diskriminasi tidak diijinkan dalam etika bisnis islam. Saat menjalankan bisnis tidak diperbolehkan memandang dari segi ras, suku, warna kulit, agama maupun jenis kelamin.
  • Memiliki aturan yang sama, tidak membeda-bedakan aturan saat melakukan bisnis atau berada di tempat kerja
  • Tidak diperbolehkan menimbun harta benda. Menjalankan bisnis atas dasar dorongan keserakahan untuk memperkaya diri sendiri dan mengabaikan orang lain, tidak sesuai dengan ajaran islam.

2. Menjaga Keseimbangan

Perihal menjalankan bisnis dan lingkungan kerja, seorang muslim diharuskan untuk berbuat adil, bahkan pada pihak yang tidak disukai. Rasulullah SAW mengajarkan keadilan dalam islam, melakukan kecurangan dan bertindak zalim sangat dilarang.

Salah satu praktik keseimbangan yang diajarkan Al Quran adalah perihal takaran  dalam perdagangan. Ditegaskan bahwa bagi kaum muslim tidak diperbolehkan melakukan kecurangan dalam timbangan, takaran harus dilakukan dengan benar tidak boleh dikurangi.

3. Menerapkan Prinsip Kehendak Bebas yang Adil Antara Kedua Belah Pihak

Kebebasan merupakan prinsip yang penting dalam etika berbisnis di ajaran islam. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah tidak merugikan kepentingan banyak orang. Membuka kesempatan pada setiap individu untuk melakukan usahanya.

Adanya kebebasan ini, maka setiap orang diperbolehkan berkarya dan melakukan usaha semaksimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Namun kebebasan ini juga diseimbangkan dengan kewajiban melakukan zakat, infak serta sedekah.

4. Menjunjung Tinggi Tanggung Jawab

Adanya kebebasan, tentunya dibutuhkan tanggung jawab. Setiap pebisnis bebas menjalankan bisnisnya, tetapi tetap harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Untuk itu juga dibuat aturan-aturan dalam perdagangan tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Oleh karena itu, kebebasan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan.

5. Mengutamakan Kebenaran dan Kejujuran

Konsep kebenaran di sini diartikan sebagai kebajikan dan kejujuran. Ketika menjalankan bisnis, seorang muslim dituntut untuk berprinsip pada kebenaran, yang meliputi niat, sikap dan perilaku yang benar dalam mencari keuntungan. Prinsip ini dimaksudkan untuk menjaga adanya pihak yang dirugikan saat melakukan bisnis.

Pada ajaran islam kejujuran merupakan bagian mendasar dalam menjalankan perdagangan. Rasulullah bersabda bahwa seorang muslim tidak boleh melakukan penipuan melakukan perdagangan, apabila menjual sesuatu yang memiliki aib diharuskan untuk menjelaskan aibnya itu.

Rasulullah juga telah mengajarkan terkait etika berbisnis dalam islam. Diantara ajaran Rasul dalam hal perdagangan antara lain: memberi kemudahan pada orang lain dengan menjual barang; tidak melakukan sumpah palsu ; ramah tamah saat berbisnis;  tidak melakukan penipuan; tidak ihtikar atau menumpuk barang; serta tidak melupakan ibadah pada Allah; juga tidak lupa membayar upah; dan tidak melakukan monopoli.

Semua penjelasan tentang etika berbisnis dalam islam diatas didasarkan prinsip berbisnis yang benar yang berpedoman dari Al-Quran dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Meski tantangan mencari nafkah semakin berat di era globalisasi ini, seorang muslim harus tetap ingat untuk menjalankan nilai-nilai yang diajarkan tersebut.

 

Baca Juga: Ingin Cepat Kaya? 6 Rekomendasi Cara Cepat Kaya Menurut Islam yang Terbukti Sukses, Lakukan Ini!